Jumat, 11 Januari 2013

43. PERENCANAAN RUMAH SAKIT


Perencanaan Rumah Sakit dapat dibagi ke dalam dua kategori:
I.    Study Kelayakan untuk perencanaan dimana Rumah Sakit akan dibangun (penetapan lokasi)
II.    Perencanaan bangunan fisik, peralatan dan fasilitas penunjang lainnya

I.    Di dalam Study Kelayakan , setidaknya kita harus  survey hal-hal sebagai berikut:
a)    Kebutuhan akan Rumah Sakit di area tersebut
b)    Kondisi lokasi
c)    Perekonomian masyarakat  dimana rumah sakit tersebut akan dibangun
d)    Kebutuhan calon pelanggan pada pelayanan yang akan disediakan Rumah Sakit
e)    Ketersediaan Tenaga Kerja
f)    Sumber daya Financial

a.    Kebutuhan untuk menganalisa lokasi Rumah Sakit: Lebih baik menunjuk konsultan rumah sakit yang dapat melakukan survey untuk mementukan kelayakan lokasi yang dipilih secara obyektif. Di dalam survey ini konsultan harus menilai apakah komunitas dalam jangkaun proyek mampu memanfaatkan pelayanan yang diberikan rumah sakit, jika komunitas dalam jangakauan termasuk komunitas yang sejahtera maka harus dibuat rumah sakit yang “mewah” atau dengan kata lain rumah sakit harus memiliki fasilitas yang layak (diatas rata-rata fasilitas rumah sakit lain yang sudah ada). Tranportasi, fasilitas umum, pemondokan (tempat tinggal) bagi calon karyawan termasuk hal yang harus diperhitungkan dalam survey ini.

b.    Kondisi Lokasi Rumah Sakit: Lokasi yang dipilih harus memiliki luasan lahan yang “cukup” luas untuk keperluan pengembangan dikemudian hari. Lokasi harus sesuai untuk konstruksi bangunan, tidak pada lokasi rawan bencana, tidak pada area rawan banjir,  dan harus mudah diakses dari berbagai arah, utamanya yang berkaitan dengan fasilitas umum yang ada, dan sebaiknya terletak pada jalur utama transportasi umum. Ketersedaiaan sumber air mengingat kebutuhan air untuk pasien mencapai 300 – 400 liter setiap harinya maka sumber air harus dipertimbangkan secara matang. Pengolahan air limbahnya harus sudah dipertimbangkan dari awal. Muka air tanah harus di perhitungkan agar instalasi sytem limbahnya tidak kesulitan, dengan mengetahui muka air tanah kita dapat tentukan jenis material pipa air yang akan dipakai. Jenis tanah juga harus dipertimbangkan untuk efisiensi jenis fondasi  yang akan di rancang. Fasilitas lain yang harus di perhatikan adalah, sumber listrik PLN, telephone, kondisi jalan, dan kondisi saluran pembuangan yang sudah ada.

c.    Perekonomian di area dimana rumah sakit akan di dirikan: kita harus mempelajari kapsitas pendapatan rata-rata (kesejahteraan) masyarakat di area tersebut sehingga kita dapat menentukan “kemewahan” dan kelengkapan peralatan yang akan kita sediakan.  Kita harus selalu melihat bahwa masyarakat sekitar rumah sakit harus mampu secara ekonomi memanfaatkan pelayanan yang kita sediakan. Fasilitas yang kita bangun harus tersedia untuk semua kategori lapisan masyarakat.

d.    Kemungkinan sebagai rumah sakit rujukan: Di dalam survey awal kita harus menemukan apakah masyarakat dapat menggunakan pelayanan dari institusi yang kan kita bangun, kita harus melihat keberadaan rumah sakit  tersebut akan mampu memberikan pelayanan pada masyarakat yang datang dari luar daerah dimana RS tersebut didirikan, sehingga diperlukan fasilitas penginapan atau sejenisnya.

e.    Ketersediaan SDM: Kita harus mampu memastikan apakah tersedia cukup tenaga paramedic dan lainnya secara langsung di area tersebut ataukah harus didatangkan dari luar daerah, hal ini harus diperhitungkan dari awal karena akan berkaitan dengan banyak permasalahan, yang implikasinya adalah benilai financial.

f.    Sumber Financial: Sebelum kita memulai proyek yang kita rencanakan, kita harus menganilsa sumber financial yang ada. Sebagian besar dana yang kita butuhkan dapat kita peroleh dari bank atau institusi pendanaan yang lain (bank lebih aman). Kita harus merencanakan dan menghitungnya secara detail sehingga kebutuhan semua dana harus sudah tercukupi dari awal, dan tidak akan terjadi pemberhentian proyek ditengah jalan. Sering terjadi perencananaan yang tidak dilakukan dengan teliti akan mengacaukan proses pembangunan dan tidak sedikit proyek yang “mangkrak”. Kita harus menghitung budged secara akurat dan mengetahui bahwa PBP –nya mencapai 7 hingga 10 tahun, baru proyek tersebut kita nyatakan feasible :”layak”.  Di dalam Rumah Sakit, peralatan medis sangat mahal harganya, dan sering terjadi perkembangan peralatan medis terjadi dalam waktu yang relative singkat. Kita harus budayakan memproses perencanaan secara mendalam, detail dan gunakan waktu lebih lama untuk mewujudkan perencanaan yang sempurna, dibandingkan sebaliknya.  Perencanaan yang dibuat secara “cepat jadi” cenderung akan mengakibatkan biaya tinggi karena banyak terjadi perubahan dan modifikasi dalam proses pelaksanaannya.

II.    Perencanaan bangunan, peralatan dan fasilitas penunjang lainnya:
Setelah proses survey selesai dilakukan mulailah dengan perencanaan bangunan, sebaiknya kita menunjuk perencana yang khusus menangani proyek-proyek rumah sakit,  menyiapkan master layout, untuk menentukan posisi berbagai unit bangunan  (alur).  Di dalam pembuatan master plan ini harus sudah terakomodir semua kebutuhan ruang dan dimensinya untuk tiap-tiap departemen.

Rumah sakit dapat dibagi ke dalam rumah sakit corporate, rumah sakit pemerintah, dan klinik swasta, atau rumah sakit umum yang akan memiliki semua departemen dan klasifikasi rumah sakit khusus (rs mata, cancer, dll).
Sesuai kondisi perekonomian pasien dan kebutuhan komunitas di area tersebut, ruang rawat inap dirancang. Pada beberapa tempat, kita sebaiknya memiliki lebih banyak ruang yang “mewah”  dan bisa jadi di tempat lain kita lebih banyak membutuhkan ruangan standard dan umum. Untuk itu sudah ada pedoman dari depertemen kesehatan tentang hal ini. Fasilitas lain yang harus ada antara lain; toilet, medical store, optical store, lobby, space area, taman, parking area, dll. Nurse station harus diposisikan pada posisi tengah, ruang perawatan harus dikondisikan senyaman dan setenang mungkin, reception harus memiliki atmosphere penyambutan yang hangat untuk semua orang yang datang ke rumah sakit. Ketika kita merencanakan pembangunan infrastruktur, kita harus memilih material yang sesuai dengan kondisi alam Indonesia sehingga cara dan biaya maintenance akan dapat dikontrol secara efisien.

42. PERENCANAAN DAN PERANCANGAN TAMBANG



Ditinjau dari segi teknik, perencanaan berarti penentuan persyaratan teknik dalam mencapai sasaran kegiatan serta urutan teknik pelaksanaan berbagai macam anak kegiatan untuk mencapai tujuan dan sasaran kegiatan tersebut. Perencanaan terikat oleh rangka waktu dan mencakup kegiatan penelitian awal, studi kelayakan, analisis persoalan, rancangan, program, konstruksi pengawasan, dan pemeliharaan.

Pada dasarnya perencanaan dapat dibagi dua yaitu :
  • Perencanaan Strategis yang mengacu pada penentuan sasaran secara menyeluruh, strategi pencapaiannya serta penentuan cara waktu dan biaya
  • Perencanaan Operasional menyangkut teknik pengerjaan dan penggunaan sumber daya untuk mencapai tujuan serta terikat pada sistem keuangan.
Dari itu perencanaan tambang adalah proses perumusan secara menyeluruh beberapa kemungkinan konsep dasar dan aturan kegiatan penambangan yang akan dilaksanakan yang selanjutnya menjadi dasar bagi pihak pengelola dalam mengambil keputusan.

2. 
Rancangan Tambang
Rancangan adalah suatu kegiatan dalam menentukan spesifikasi dan bentuk dari barang jadi yang akan dibuat (dan tidak terikat pada fungsi waktu senbagaimana perencanaan). Ada dua tingkat perancangan yaitu :
  • Rancangan Konsep adalah suatu rancangan untuk menciptakan barang jadi, paralatan atau sistem yang dibuat atas dasar analisis dan perhitungan secara garis besar saja dan barang yang akan dibuat tersebut hanya dipandang dari sudut fungsinya saja. Data yang digunakan masih berupa data asumsi berdasarka pengalaman. Rancangan ini pada umumnya digunakan pada prerhitungan atau penentuan di awal kegiatan dan ditahap awal penyusunan perencanaan.
  • Rancangan Rekayasa adalah rancangan yang telah memuat perincian, teknik pembuatan, pelaksanaan serta spesifikasi alat dan bahan.

41. PERENCANAAN TRANSPORTASI


Dalam perencanaan transportasi, terlebih dahulu harus diketahui mengenai pengertian transportasi. Transportasi didefinisikan sebagi suatu usaha memindahkan orang atau barang dari suatu tempat ke tempat lainnya. Transportasi akan selalu berkaitan dengan pepergian/pergerakan (trip), perjalanan (travel), lalu lintas (traffic), rute/jalur (route). Elemen-elemen utama transportasi adalah manusia, barang, prasaranam sarana dan organisasi. Elemen-elemen pelayanan transportasi adalah kecepatan (speed), keselamatan (safety), ketersediaan (adequecy), frekuensi (frequency), keteraturan (regularly), tanggung jawab (responsibility), pertimbangan yang menyeluruh (comprehensiveness), biaya yang layak (acceptable cost) dan kenyamanan (comfort). Masalah - masalah transportasi telah diatur dalam UU Nomor 14 Tahun 1992 tentang lalu lintas dan UU Nomor 1 Tahun 1980 tentang Jalan.

Permasalahan Transportasi
Seperti di negara sedang berkembang lainnya, berbagi kota besar di Indonesia berada dalam tahap pertumbuhan urbanisasi yang tinggi akibat laju pertumbuhan ekonomi yang pesar sehingga kebutuhan penduduk untuk melakukan pergerakan pun menjadi semakin meningkat.

Tantangan bagi pemerintah negara sedang berkembang, dalam hal ini instansi dan departemen terkait serta para perencana transportasi perkotaan adalah masalahkemacetan lalu lintas serta pelayanan angkutan umum perkotaan. Masalah kemacetan ini biasanya timbul pada kota yang penduduknya lebih dari 2 juta jiwa yang sampai tahun 1996 telah dicapai oleh beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung dan Jogjakarta.

Untuk menanggulangi kemacetan lalu lintas ini, pemerintah daerah melakukan berbagai langkah, baik berupa menyusun kebijakan, menyusun tindakan maupun menggarap aspek hukum. Hasilnya berupa pembangunan dan pengembangan prasarana, optimasi penggunaan ruang jalan serta penerapan peraturan dan hukum. Meskipun demikian, terlepas dari penilaian terhadap efektif dan efisiensinya kebijakan juga langkah yang diambil setelah itu, kemacetan pada suatu wilayah perkotaan tidak terjadi perubahan yang signifikan. Ini bukan saja karena memang kapasitas pelayanan yang kurang memadai, tapi juga karena pertumbuhan permintaan yang cukup tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan penyediaan sarana dan prasarana transportasi yang dibutuhkan.

Dari beberapa hasil kajian (Tamin, 1995) teridentifikasi secara umum bahwa kelemahan sistem pengelolaan transportasi wilayah atau perkotaan di beberapa kota disebabkan oleh :
  • Lemahnya mekanisme hubungan kerja atau koordinasi antar instansi yang terkait dalam masalah transportasi perkotaan;
  • Tidak jelasnya wewenang dan tanggung jawab instansi dalam penanganan masalah transportasi perkotaan;
  • Kurangnya sumber daya manusia (SDM), baik dari sisi kualitas maupun kuantitas;
  • Kurang representatifnya peraturan pelaksanaan yang ada dan belum adanya arahan mengenai bagaimana seharusnya sistem pengelolaan transportasi perkotaan diadakan dengan melihat seberapa besar permasalahan transportasi perkotaan yang ada, tipologi kota dan lain sebagainya.
Pada saat ini sebagian besar pemakai angkutan umum masih mengalami beberapa aspek negatif sistem angkutan jalan raya, yaitu :
  • Tidak adanya jadwal yang tetap;
  • Pola rute yang memaksa terjadinya transfer;
  • Kelebihan penumpang pada saat jam sibuk;
  • Cra mengemudikan kendaraan yang sembarangan dan membahayakan keselamatan.
Secara umum permasalahan transportasi di perkotaan dipengaruhi oleh beberapa kondisi berikut (sebagai ilustrasi diambil permasalahan transportasi di Jakarta) : 
1. Sarana dan prasarana lalu lintas masih terbatas
  • Tidak seimbangnya prosentase penambahan jumlah kendaraan sebesar 11,47% per tahun dengan persentase pertambahan prasarana jaringan jalan yang hanya 4% per tahun;
  • Sarana pejalan kaki (trotoar) belum memadai dan masih sangat kurang;
  • Kapasitas persimpangan masih terbatas;
  • Sarana penyeberangan jalan belum memadai.
2. Manajemen lalu lintas belum berfungsi secara optimal
  • Kendaraan berpenumpang kurang dari 2 orang masih terlalu banya;
  • Fungsi jalan belum terpisah secara nyata (fungsi jalan arteri masih bercampur dengan fungsi jalan lokal);
  • Jalan dan trotoar digunakan oleh pedagang kaki lima dan usaha lainnya seperti bengkel dan parkir liar;
  • Lalu lintas satu arah masih terbatas pada jalan tertentu;
  • Lajur Khusus Bus (LKB) baru ditetapkan pada beberapa jalan untuk jam tertentu;
  • Penerapan Kawasan Pembatasan Lalu Lintas (KPL) masih terbatas pada jam tertentu saja;
3. Pelayanan angkutan umum penumpang belum memadai
  • Dari sekitar 2 Juta kendaraan bermotor, tercatat jumlah angkutan pribadi 86%, angkutan umum 2,51% dan sisanya sebesar 11,49% adalah angkutan barang. Selain itu diketahui bahwa 57% perjalanan orang menggunakan kendaraan pribadi. Dengan demikian proporsi angkutan penumpang menjadi tidak seimbang, yaitu 2,51% angkutan umum harus melayani 57% perjalanan orang, sedangkan 86% angkutan pribadi hanya melayani 43% perjalanan orang;
  • Tidak seimbangnya jumlah angkutan umum dengan jumlah perjalanan orang yang harus dilayani menyebabkan muatan angkutan umum melebihi kapasitasnya terutama pada jam sibuk;
  • Penataan angkutan umum belum mengacu kepada hirarki jalan;
  • Belum tersedianya sistem angkutan umum massal.
4. Disiplin pemakai jalan masih rendah
  • Disiplin pengendara, penumpang maupun pejalan kaki masih kurang;
  • Perubahan peraturan menyebabkan perlunya waktu untuk penyesuaian;
  • Pendidikan mengenai lalu lintas belum masuk dalam pendidikan formal.
Kecenderungan perjalanan orang dengan angkutan pribadi di daerah perkotaan akan meningkat terus bila kondisi sistem transportasi tidak diperbaiki secara lebih mendasar. Berarti akan lebih banyak lagi kendaraan pribadi yang digunakan karena pelayanan angkutan umum seperti saat ini tidak dapat diharapkan lagi. Peningkatan kecenderungan perjalanan dengan angkutan pribadi adalah dampak fenomena pertumbuhan daerah perkotaan, seperti :
  • Meningkatnya aktivitas ekonomi kurang terlayani oleh angkutan umum yang memadai
  • Meningkatnya harga tanah di pusat kota mengakibatkan tersebarnya lokasi permukiman jauh dari pusat kota atau bahkan sampai ke luar kota yang tidak tercakup oleh jaringan layanan angkutan umum;
  • Dibukanya jalan baru semakin merangsang penggunaan angkutan pribadi karena biasanya di jalan baru tersebut belum terdapat jaringan layanan umum pada saat ini;
  • Tidak tersedianya angkutan lingkungan atau angkutan pengumpan yang menjembatani perjalanan sampai ke jalur utama layanan angkutan umum;
  • Kurang terjaminnya kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan tepat waktu, kebutuhan akan lama perjalanan yang di derita dalam pelayanan angkutan umum;
  • Semakin meningkatnya daya beli dan tingkay privacy yang tidak bisa dilayani oleh angkutan umum/
Pengantar Perencanaan Transportasi 
Kegiatan perencanaan transportasi yang paling besar pada tahun-tahun terakhir ini adalah perencanaan transportasi perkotaan, di mana fokus perhatiannya adalah merencanakan prasarana jalan dan transportasi umum untuk masa depan. Dalam bidang perencanaan transportasi perkotaan inilah sebagian besar riset dan pengembangan alat-alat model baru telah dilakukan dimana sebagian besar pengalaman dalam perencanaan transportasi jangka panjang telah dikembangkan.

Perencanaan transportasi dilakukan untuk berbagai alasan. Salah satu alasan yang sangat penting adalah bahwa periode waktu yang sangat panjang akan dibutuhkan untuk melaksanakan sebagian besar perubahan utama dalam sistem transportasi, terutama pembangunan fasilitas-fasilitas yang baru. Oleh karena itu, pengambilan keputusan yang rasional mengenai dibangun atau tidak fasilitas tertentu membutuhkan pandangan ke masa depan, pada periode dimana ia akan dipakai, dan keuntungan dari pemakainya yang akan diperoleh. Selain itu, untuk alasan yang sama, kita harus melihat ke masa depan untuk dapat memperkirakan masalah-masalah yang akan muncul apabila fasilitas tadi tidak tersedia, sehingga fasilitas tadi dapat dibangun secepatnya untuk menghindari masalah tersebut sebelum ia menjadi sesuatu yang tidak dapat diterima lagi.

Perencanaan juga berguna untuk memastikan bahwa berbagai perubahan di dalam sistem akan bekerja dengan baik sehingga dapat menghasilkan keuntungan maksimum bagi daerah yang bersangkutan. Perencanaan jangka panjang juga dilakukan karena tingkat pemerintahan yang lebih tinggi (atau badan-badan ekstern seperti badan pembiayaan internasional) biasanya memerlukannnya untuk dapat mempunyai gambaran menyeluruh mengenai keadaan transportasi di masa depan, dan dapat mempunyai bayangan bagaimana proyek tadi berfungsi apabila dilakasanakan.

Perencanaan transportasi perkotaan tidak pelak lagi merupakan bentuk yang paling umum di dapat dari perencanaan jangka panjang. Bidang perencanaan transportasi perkotaan masih tetap berkembang, sebab disadari bahwa metode dan prosedur yang telah dikembangkan tidak seluruhnya sesuai untuk dapat menangai masalah rumit yang timbul akibat pertumbuhan yang cepat dalam daerah perkotaan, dengan kebutuhan akan kualitas kehidupan yang lebih baik. 

Proses perencanaan transportasi meliputi kegiatan seperti inventarisasi (inventory), peramalan penggunaan lahan (land use forecasting), bangkitan pepergian (trip generation), distribusi/sebatan pepergian (trip distribution), pilihan moda (modal split), penempatan lalu lintas (traffic assignmen). Penjelasannya sebagai berikut :

Inventarisai (Inventory)
Merupakan tahap awal untuk mengumpulkan data-data yang digunakan sebagi dasar mengevaluasi keadaan transportasi dan kebutuhan perjalanan saat ini, yang semuanya digunakan untuk memperkirakan kebutuhan perjalanan dan sistem informasi yang akan datang. Data yang diharapkan didapat antara lain penggunaan lahan, perjalanan penduduk, jumlah trip yang dilakukan, dan tingkat penggunaan bermacam-macam fasilitas transportasi yang tersedia, populasi dan karakteristik sosial ekonomi wilayahnya.

Peramalan Penggunaan Lahan (Land Use Forecasting)
Memprediksi perkembangan penggunaan lahan yang ada sekarang, terutama penggunaan lahan yang berpengaruh terhadap transportasi seperti perkembangan perumahan dan penggunaan komersial lainnya.

Bangkitan Pepergian (Trip Generation)
Menyangkut perkiraan jumlah trip yang datang (attraction) dan pergi (production) dari suatu zona per satuan waktu. Trip generation ini akan selalu dipengaruhi oleh intensitas penggunaan lahan, karakteristik dari rumah tangga penduduk, dan lokasi tempat tinggal yang ditinjau.

Distribusi/Sebaran pepergian (Trip Distribution)
Langkah untuk mendistribusikan semua trip yang berasal dari setiap zona menuju ke semua kemungkinan zona yang tersedia.

Pilihan Moda (modal split)
Moda berkaitan dengan jenis transportasi yang digunakan, pilihan pertama biasanya berjalan kaki atau menggunakan kendaraan (pribadi atau umum). Dasar untuk pemilihan moda transportasi ini akan dipengaruhi oleh karakteristik trip, karakteristik traveler dan karakteristik sistem transportasinya.

Penempatan Lalu Lintas (Traffic Assignment)
Langkah terakhirnya adalah menempatkan pergerakan (trip) kedalam sistem jaringan jalan yang ada. Pada tahap ini akan juga ditentukan rute-rute yang dilalui, dimana pilihan rute akan juga berhubungan dengan tingkat pelayanan (level of service) jalannya.

40. PERENCANAAN KEBJIKAN PUBLIK


Kekuasaan tidak dapat dilepaskan dari proses pengambilan keputusan. Definisi tentang kekuasaan terkadang tidak dapat dilepaskan dari proses pengambilan keputusan. Lasswell (Dalam Dwicaksono, 2003) berpendapat bahwa kekuasaan adalah partisipasi dalam membuat keputusan yang penting. Sheppered (dalam Abbot, 1995) berpendapat bahwa proses pengambilan keputusan publik adalah contoh nyata dari penggunaan kekuasaan. Kekuasaan merupakan sesuatu yang tidak dapat dilepaskan dari proses pembuatan keputusan yang melipatkan hubungan antar individu dan kelompok kepentingan dengan negara. 
Teori mengenai kekuasaan mengalami metamorfosa dan proses dialektika untuk menuju sebuah penyempurnaan mengenai pemahaman para ahli mengenai kekuasaan. Salah satu teori yang terkemuka adalah teori tiga dimensi kekuasaan yang dikemukakan oleh Luke dan dikembangkan oleh John Gaventa. Teori tersebut merupakan sebuah evolusi dari teori lain yang berkembang sebelumnya. 
Teori yang pertama adalah teori kekuasaan satu dimensi yang dikemukakan oleh Robert Dahl. Persepektif ini disebut sebagai pendekatan pluralis dan meningkatkan kepada peningkatan kekuasaan melalui proses pembuatan kebijakan dan perilaku yang bisa diamati. Persepektif satu dimensi ini menjelaskan sebuah kondisi dimana salah satu kelompok didominasi oleh kelompok yang lain, sehingga kelompok yang didominasi tidak bisa melakukan apapun tanpa ada ’perintah’ dari kelompok yang mendominasi. 
Pendekatan pluralis melihat arena politik sebagai sebuah sistem terbuka dengan kesempatan yang sama dengan semua orang untuk dapat terlibat, bukan hanya berputar disebuah elite saja. Setiap orang akan ikut terlibat dan berpartisipasi dalam proses kebijakan, apabila merasa terkait dengan satu isu dan ingin menyampaikan pendapatnya mengenai isu tersebut. Apatisme atau non-partisipasi merupakan sebuah gambaran dari kurangnya minat terhadap sebuah isu yang berkembang. Menyadari kondisi masyarakat yang beragam, maka konflik merupakan sebuah hal yang wajar terjadi sebagai sebuah hasil yang diharapkan atau sebagai sebuah media untuk menentukan siapa yang menang. 
Pendekatan ini mendapatkan kritikan yang menyatakan bahwa ketika pendekatan satu dimensi ini melihat kekuasaan sebagai sebuah fungsi yang tersembunyi dari pembuatan kebijakan yang mengamati konflik terbuka melalui partisipasi terbuka, maka pendekatan itu telah mengabaikan mekanisme politik yang penting. Seringkali terjadi, dimana kekuasaan menggunakan potensinya untuk mencegah satu isu untuk diangkat dan menekan partisipasi di dalam arena politik. Isu potensial dan keluhan tidak pernah terungkapkan karena telah dimatikan oleh kekuasaan. Pendekatan yang membatasi pada sebuah fenomena yang nampak, dapat melewatkan fenomena manipulasi dan paksaan yang menyebabkan sebuah isyu atau suatu kelompok tidak masuk dalam arena politik. 
Kritikan terhadap pendekatan satu dimensi melahirkan pendekatan kedua yang dikemukakan oleh Bachrach dan Baratz yang melihat kekuasaan melalui pendekatan dua dimensi yang sering disebut sebagai elite model. Dimensi pertama melihat arena sebagai sebuah sistem terbuka dan walaupun distribusi kekuasaan tidak tersebar merata, akan tetapi tidak berpusat pada satu kelompok saja. Dimensi yang kedua adalah sistem ketidakmerataan yang monopolistik diciptakan dan dipertahankan oleh kelas dominator. Elite mempunyai kekuatan dan sumber daya untuk mencegah tindakan politik yang tidak menguntungkan mereka. Elite menentukan agenda untuk mempertahankan dominasinya. Pendekatan dua dimensi ini membahas lebih dalam mengenai fenomena non-partisipasi, keluhan dan apatisme. 
Analisis yang lebih dalam dari dimensi kedua ini tetap melahirkan kritikan. Salah satu kritikan yang dikemukakan adalah pada dasarnya pendekatan ini tidak berbeda dengan pendekatan sebelumnya, yakni memfokuskan analisis pada sebuah konflik yang terlihat. Pendekatan ini melihat ketika tidak terjadi konflik, maka sudah terjadi sebuah konsensus atau alokasi sumber daya yang menyebabkan tidak terjadi sebuah konflik. Luke (dalam Hardiansyah, 2005) menerangkan bahwasanya manipulasi dan kewenangan merupakan sebuah bentuk kekuasaan yang tidak perlu melibatkan konflik terbuka. Sehingga konflik laten dapat terjadi dimana ketika seseorang menerima sesuatu yang berlawanan dengan kepentingannya tanpa mengetahuinya sama sekali. 
Pendekatan tiga dimensi merupakan perluasan daari pendekatan satu dimensi dan dua dimensi dan sering disebut calss dialetical model. Pendekatan ini lahir dari sebuah kritikan terhadap pendekatan yang fokus dan prilaku yang memasukkan pertimbangan kekuatan yang tersembunyi dan konflik yang mendapat pengaruh kekuasaan (Gaventa, 1985) adalah untuk mengidentifikasi alat dan media yang digunakan oleh pengaruh kekuasaan untuk membentuk atau menentukan konsepsi dari kebutuhan, kemungkinan dan strategi untuk menghadapi konflik yang terjadi. 
Proses yang terjadi dalam proses politik dalam persepektif dalam tiga dimensi ini adalah sebuah proses ekskalatif. Dimana kelompok yang terdominasi akan bergerak dari sebuah kondisi ketidakberdayaan menjadi sebuah kondisi melawan kelompok dominan. Proses ini dipersepsikan oleh Gaventa (1985) sebagai kondisi ”power serves to create power, powerlessness serves to re-enforce powerless-ness” 
Kerangka Kekuasaan Tiga Dimensi 

Dimensi pertama, yaitu kekuasaan, melibatkan sebuah titik tekan dari perilaku dalam pengambilan keputusan dari sebuah isu yang terdapat konflik terbuka dari sebuah kepentingan subjektif. Dimensi ini mencoba menjelaskan bagaimana sebuah kelompok atau individu berusaha untuk memperbesar dan memperluas kekuasaan yang dimilikinya. Domensi kedua adalah kepentingan, merupakan perluasan dari dimensi pertama, sehingga proses-proses yang terjadi dalam spektrum dimensi pertama termasuk pula dalam dimensi kedua. 
Dimensi kedua mencoba menjelaskan bagaimana proses pembuatan keputusan sedapat mungkin berangkat dari isu potensial yang didasarkan pada sebuah konflik terbuka dari sebuah kepentuingan subjektif semata. Tindakan-tindakan politis yang diambil dan termasuk spektrum dimensi ini menekankan kepada sebuah proses perluasan kekuasaan serta mulai melibatkan kepentingan sebagai sebuah pencapaian yang harus daraih. Pada titik ini tindakan-tindakan yang dilakukan dimaksudkan untuk memperbesar kekuasaan dan kepentingan-kepentingan yang dimiliki oleh kelompok atau individu. Pada dimensi ini pula kepentingan-kepentingan yang tidak sejalan dengan perluasan kekuasaan dan
kepentingan objektif mulai disingkirkan. 
Dimensi yang ketiga adalah hegemoni, yang merupakan perluasan dari kedua dimensi sebelumnya. Dimensi kedua dan ketiga pada dasarnya dibangun untuk memperoleh sebuah gambaran mengenai hubungan sebab akibat dari dimensi yang pertama. Dimensi ketiga merupakan sebuah proses bagaimana sebuah kelompok atau individu bukan hanya memperluas kekuasaan dan berusaha meloloskan kepentingan mereka, tetapi juga berusaha mempertahankan hegemoni yang telah dimiliki oleh kelompok atau individu. 
John Gaventa (1980) mencoba menjelaskan hubungan para pelaku pilitik dalam konteks kerangka kekuasaan tiga dimensi Luke. Model ini menganalogikan dua belah pihak antara A dan B. Kelompok A merupakan kelompok dominan sedangkan kelompok B kelompok yang terdominasi. Hal ini diungkapkan oleh Gaventa pada penelitiannya yang menggunakan pendekatan tiga dimensi ini pada kasus Suku Indian Applachian yang terdominasi oleh kelompok pengusaha yang mengambil alih lahan yang dimiliki. 

39. PERENCANAAN KOMUNIKASI PEMASARAN


 IMC (Integrated Marketing Communication) adalah sebuah konsep dari perencanaan komunikasi pemasaran yang memperkenalkan nilai tambah dari rencana komprehensif yang mengevaluasi peran strategis dari berbagai disiplin komunikasi—misalnya periklanan umum, respon langsung, sales promotion, dan PR—dan mengombinasikan disiplin-disiplin ini untuk memberikan kejelasan, konsistensi dan dampak komunikasi yang maksimal.
Secara sederhana-nya IMC dapat diartikan sebagai “Proses dari pengelolaan customer relationships yang menggerakkan brand value.” Sedangkan secara spesifik, IMC dapat diartikan sebagai “proses yang mempunyai fungsi bersilang dalam menciptakan dan memelihara hubungan yang menguntungkan dengan customer dan stakeholder lainnya dengan mengontrol dan mempengaruhi secara strategis semua pesan yang terkirim kepada kelompok ini serta menggerakkan dialog dengan maksud tertentu kepada mereka.”
Integrated Marketing Communication (IMC) adalah satu dari sekian proses yang tersedia guna membina hubungan dengan customer. Apa yang membedakan IMC dengan proses customer-centric lainnya adalah dasar dari proses tersebut adalah komunikasi, yang merupakan jantung dari semua hubungan, dan juga merupakan proses yang sirkuler.
Seperti yang sudah disebutkan diatas, konsep dasar dari IMC adalah komunikasi. Dengan komunikasi ini, IMC berusaha untuk memaksimalkan pesan positif dan meminimalkan pesan negatif dari suatu brand, dengan sasaran menciptakan dan menyokong brand relationship. Untuk membangun hubungan jangka panjang, IMC juga digunakan untuk membangun dan memperkuat brandBrand relationship yang positif juga akan menghasilkan keuntungan dan meningkatkan nilai dari pemegang saham perusahaan tersebut.
Semakin banyaknya istilah IMC yang dipakai oleh para praktisi dan pakar pendidikan, namun tidak ada istilah yang benar-benar disetujui tentang apakah IMC itu? Tapi ada dua ide pokok mengenai IMC:
1. Komunikasi pemasaran yang bersifat one-voice. Maksudnya adalah, walaupun elemen komunikasi pemasaran yang digunakan berbeda-beda dalam meraih konsumen namun semua itu harus dapat dikoordinasi dengan cara yang tepat oleh berbagai organisasi dan agensi yang bekerja pada elemen-elemen yang berbeda tersebut
2. Komunikasi yang berintegrasi. Komunikasi disini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan brand awareness atau pencitraan produk yang baik saja, namun juga harus dapat menimbulkan hasil penjualan yang baik.
FILOSOFI IMC DALAM PERSPEKTIF PEMASARAN DAN KOMUNIKASI
Perspektif Komunikasi.
Lagi, seperti yang sudah diuraikan diatas, fondasi yang penting dari IMC merupakan komunikasi—pengiriman dan penerimaan pesan. Seperti halnya kita berkomunikasi dengan teman, kita secara sadar ataupun tidak, menggunakan kata-kata, aksi, gerak tubuh, bahkan mimik muka tertentu. Ketika kita berkomunikasi dengan ortu atau guru, mungkin strategi komunikasi kita akan cenderung serius. Tetapi jika kita berkomunikasi dengan sahabat, pesan yang disampaikan mungkin akan lebih fleksibel, dan bahkan terkesan konyol. Tetapi, walaupun kita mengirimkan berbagai jenis pesan kepada berbagai jenis orang, semua isi pesan yang datang dari kita mempunyai konsistensi yang membuat penerimanya tahu bahwa pesan ini datang dari kita, bukan dari orang lain. Dalam IMC pun, konsistensi juga diperlukan agarbrand image dapat menancap kuat dalam benak konsumen.
Dalam prakteknya, IMC tidak jauh berbeda dengan hubungan personal. Memilih suatu brand, sama halnya dengan memilih teman. Kita mempunyai banyak pilihan yang harus dipertimbangkan. Terkadang kita lebih memilih berteman dengan orang yang biasa-biasa saja tapi pengertian dibandingkan dengan orang yang populer tapi egois, bukan? Sama halnya IMC dari perspektif komunikasi, kadang pilihan kita terhadap suatu brandtergantung dari apa yang dikomunikasikannya kepada kita. Misalnya: kita memilih bank X karena tagline-nya yang berbunyi “melayani dengan senyum” disertai dengan pelayanan dari teller-nya yang benar-benar ramah dan dengan senyuman. Bahkan menurut penelitian dari customer yang meninggalkan brand tertentu, 70 persen-nya mengatakan bahwa alasan mereka meninggalkan brand itu bukan karena produk/jasanya yang kurang memuaskan, tetapi dikarenakan bagaimana cara mereka memperlakukancustomer kurang memuaskan.
Perspektif Pemasaran
Untuk mengerti IMC, kita harus memahami pengertian dasar dari pemasaran, karena fungsi-fungsi IMC sendiri berada dibawah payung pemasaran. Seperti halnya pemasaran, IMC sendiri merupakan konsep sekaligus proses. Dalam konsepnya, IMC menciptakan customer dan brand equity; sedangkan dalam prosesnya me-manage hubungan jangka panjang dengan customer.
Dalam IMC, kita memadukan fungsi-fungsi pemasaran sepertiadvertisingpersonal selling, sales promotion, PR, dsb. guna menciptakan dan memelihara suatu brand relationships. Untuk menciptakan suatu brand relationships yang baik, maka diperlukan penciptaan brand message yang baik pula. Sekali lagi, untuk menciptakan brand message yang baik itu, maka fungsi-fungsi pemasaran harus berjalan terpadu dan tidak saling kontradiksi. Misalnya: ketika kita mengiklankan produk parfum untuk kalangan wanita elit, maka pengemasan parfumnya harus dibuat dengan kesan mewah juga. Nah, ketika brand relationship terpelihara dengan baik, maka dengan sendirinyacustomer akan memilih brand kita, dan akan meningkatkan penjualan serta meraih untung kelak. Secara otomatis, dengan IMC itulah, maka tujuan dari pemasaran, yakni supaya customer mengenal dan mau membeli produk kita, telah tercapai.

Rabu, 09 Januari 2013

38.PERENCANAAN KOMUNIKASI KESEHATAN

Model Kepercayaan adalah suatu bentuk penjabaran dari model sosio psikologis. Munculnya model ini didasarkan pada kenyataan bahwa problem kesehatan ditandai oleh kegagalan orang atau masyarakat. Untuk menerima usaha sama dengan pencegahan dan penyembuhan penyakit yang diselenggarakan oleh provider. Kegagalan ini akhirnya memunculkan teori yang menjelaskan perilaku pencegahan penyakit atau preventif behavior, yang oleh Becker tahun 1974 mengembangkan dari teori lapangan (field theory) oleh Lewin tahun 1954 menjadi model kepercayaan kesehatan/ health belief model.
Health Belief Model (HBM) menjadi salah satu kerangka konseptual yang digunakan secara luas di dalam perilaku kesehatan selama 5 dasawarsa. HBM digunakan untuk menjelaskan perubahan dan pemeliharaan dari perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, serta sebagai sebuah kerangka pedoman dari intervensi perilaku kesehatan. HBM menggambarkan, membandingkan, dan menganalisa dengan menggunakan sebuah aturan yang luas dari beraneka ragam teknik analitik. Lebih dari 2 dasawarsa yang lalu, lebih banyak penelitian yang melakukan penetapan ukuran dari kepercayaan orang yang bersangkutan terhadap kondisi  kesehatan dan hubungan antara kepercayaan-kepercayaan ini.
Tinjauan dini dari penelitian HBM menemukan tersedianya konteks sejarah untuk cabang ini (Becker, 1974 ; Janz & Becker, 1984). HBM baru saja melanjutkan penelitian untuk menegaskan kepercayaan individu yang bersangkutan terhadap kondisi kesehatan, lalu menempatkannya di berbagai ragam analisis & memeriksa kualitas dari prediktifnya.
HBM mulai berkembang pada tahun 1950 oleh sebuah kelompok ahli ilmu jiwa sosial di US. Pelayanan kesehatan masyarakat menjelaskan kegagalan yang tersebar luas dari keikutsertaan individu dalam program untuk pencegahan dan pendeteksian penyakit (Hochbaum, 1958; Rosenstock, 1960, 1974). Kemudian model ini menyampaikan tentang respon orang untuk berbagai gejala (Kirscht, 1974) dan tingkah laku mereka sebagai respons untuk mendiagnosa penyakit, dengan factor-faktor yang adheren untuk aturan hidup dalam kedokteran (Becker, 1974). Pada umumnya, sekarang timbul kepercayaan/ keyakinan bahwa orang lebih memilih tindakan pencegahan, perlindungan atau untuk mengontrol keadaan sakit dan sehat.




KUNCI KONSEP & DEFINISI DARI HEALTH BELIEF MODEL
KONSEP
DEFINISI
Merasa Rentan
(Perceived susceptibility)
Kepercayaan seseorang mengenai kesempatan untuk mengkondisikan sesuatu
Merasa Berat
(Perceived severity)
Kepercayaan seseorang tentang bagaimana seriusnya suatu kondisi dan bagaimana akibat dari kondisi itu
Merasakan Manfaat
(Perceived benefits)
Kepercayaan seseorang tentang kemanjuran/ keampuhan dari nasehat, untuk mengurangi resiko atau dampak yang serius
Merasakan Rintangan
(Perceived barriers)
Kepercayaan seseorang tentang kenyataan & harga kejiwaan dari tindakan menasehati
Pedoman Tindakan
(Cues to action)
Strategi-strategi untuk memacu “keadaan siap” seseorang
Keampuhan diri sendiri
(Self-efficacy)
Kepercayaan seseorang terhadap kemampuan- nya untuk mengambil tindakan
KOMPONEN-KOMPONEN & HUBUNGAN DARI HBM

COMMUNICATION/ PERSUASION MODEL
Berdasarkan Oxford English Dictionary, communication berasal dari bahasa Latin. Sekarang kita memberikan definisi communication sebagai hasil dan pertukaran informasi dan bisa diartikan dengan menggunakan lambang/ isyarat dan dengan menggunakan symbol (Gerbner, 1985). Ianya meliputi proses encoding, transmisi, decoding, dan pembentukan informasi sekaligus artinya.
Karena yang menjadi pusat dari communication adalah hubungan antara tiap individu, maka banyak tuntutan studi seperti empiris, kritikal, dan diwujudkan dalam praktek, termasuk kesehatan masyarakat. Perwujudan communication perspective dengan menggunakan fakta-fakta mempengaruhi kesehatan masyarakat.
PILIHAN TEORI KOMUNIKASI DAN TINGKATAN ANALISISNYA

THEORY OF REASONED ACTION
Theory of Reasoned Action (TRA) pertama kali diperkenalkan pada tahun 1967, teori ini lebih memperhatikan hubungan antara kepercayaan yang berhubungan dengan perilaku & norma, sikap, tujuan, dan perilaku. Pada tahun 1967, TRA mengalami perkembangan (oleh Fishbein) yaitu sebuah usaha untuk mengerti/ memahami hubungan antara sikap dan perilaku. Banyak studi sebelumnya dari hubungan ini yang menemukan secara relative korespondensi yang rendah diantara sikap-sikap dan perilaku, serta beberapa teori yang bertujuan menghapuskan  sikap sebagai sebuah factor yang mendasari perilaku (Fishbein, 1993; Abelson, 1972; Wicker, 1969).
Theory of Reasoned Action mengambil sebuah rangkaian sebab musabab yang menghubungkan kepercayaan yang berhubungan dengan perilaku dan keyakinan norma untuk tujuan yang berhubungan dengan perilaku dan tingkah laku, melalui sikap dan norma subjektif. Ukuran dari komponen model dan hubungan sebab musabab diantara komponen yang ditentukan dengan jelas (Ajzen dan Fishbein, 1980). Semua tipe ukuran menggunakan 5 atau 7 titik skala.
THEORY OF REASONED ACTION & THEORY OF PLANNED BEHAVIOR (TPB)
TRANSTHEORETICAL MODEL
Transtheoretical Model (TTM) menggunakan tingkatan dari perubahan untuk proses integrative dan prinsipel dari perubahan across major theories dari intervensi; karena itulah teori ini diberi nama transtheoritical. Model ini timbul dari analisis komperatif leading theories psikoterapi dan perubahan perilaku. Tujuannya adalah untuk mencapai integrasi secara teratur dari sebuah lapangan yang memecahnya menjadi lebih dari 300 teori psikoterapi (Prochaska,1979). Setiap tahap perkembangan, analisis komperatif mengidentifikasi 10 proses dari perubahan.
Mereka menaksir bahwa frekuensi setiap kelompok digunakan di setiap proses dalam analisis empirical dari perbandingan perubahan diri seorang perokok dalam laporan professional (DiClemente dan Prochaska, 1982). Penelitian partisipan menuturkan bahwa mereka menggunakan proses perbedaan waktu dalam perjuangan mereka dalam merokok.