Jumat, 11 Januari 2013

41. PERENCANAAN TRANSPORTASI


Dalam perencanaan transportasi, terlebih dahulu harus diketahui mengenai pengertian transportasi. Transportasi didefinisikan sebagi suatu usaha memindahkan orang atau barang dari suatu tempat ke tempat lainnya. Transportasi akan selalu berkaitan dengan pepergian/pergerakan (trip), perjalanan (travel), lalu lintas (traffic), rute/jalur (route). Elemen-elemen utama transportasi adalah manusia, barang, prasaranam sarana dan organisasi. Elemen-elemen pelayanan transportasi adalah kecepatan (speed), keselamatan (safety), ketersediaan (adequecy), frekuensi (frequency), keteraturan (regularly), tanggung jawab (responsibility), pertimbangan yang menyeluruh (comprehensiveness), biaya yang layak (acceptable cost) dan kenyamanan (comfort). Masalah - masalah transportasi telah diatur dalam UU Nomor 14 Tahun 1992 tentang lalu lintas dan UU Nomor 1 Tahun 1980 tentang Jalan.

Permasalahan Transportasi
Seperti di negara sedang berkembang lainnya, berbagi kota besar di Indonesia berada dalam tahap pertumbuhan urbanisasi yang tinggi akibat laju pertumbuhan ekonomi yang pesar sehingga kebutuhan penduduk untuk melakukan pergerakan pun menjadi semakin meningkat.

Tantangan bagi pemerintah negara sedang berkembang, dalam hal ini instansi dan departemen terkait serta para perencana transportasi perkotaan adalah masalahkemacetan lalu lintas serta pelayanan angkutan umum perkotaan. Masalah kemacetan ini biasanya timbul pada kota yang penduduknya lebih dari 2 juta jiwa yang sampai tahun 1996 telah dicapai oleh beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung dan Jogjakarta.

Untuk menanggulangi kemacetan lalu lintas ini, pemerintah daerah melakukan berbagai langkah, baik berupa menyusun kebijakan, menyusun tindakan maupun menggarap aspek hukum. Hasilnya berupa pembangunan dan pengembangan prasarana, optimasi penggunaan ruang jalan serta penerapan peraturan dan hukum. Meskipun demikian, terlepas dari penilaian terhadap efektif dan efisiensinya kebijakan juga langkah yang diambil setelah itu, kemacetan pada suatu wilayah perkotaan tidak terjadi perubahan yang signifikan. Ini bukan saja karena memang kapasitas pelayanan yang kurang memadai, tapi juga karena pertumbuhan permintaan yang cukup tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan penyediaan sarana dan prasarana transportasi yang dibutuhkan.

Dari beberapa hasil kajian (Tamin, 1995) teridentifikasi secara umum bahwa kelemahan sistem pengelolaan transportasi wilayah atau perkotaan di beberapa kota disebabkan oleh :
  • Lemahnya mekanisme hubungan kerja atau koordinasi antar instansi yang terkait dalam masalah transportasi perkotaan;
  • Tidak jelasnya wewenang dan tanggung jawab instansi dalam penanganan masalah transportasi perkotaan;
  • Kurangnya sumber daya manusia (SDM), baik dari sisi kualitas maupun kuantitas;
  • Kurang representatifnya peraturan pelaksanaan yang ada dan belum adanya arahan mengenai bagaimana seharusnya sistem pengelolaan transportasi perkotaan diadakan dengan melihat seberapa besar permasalahan transportasi perkotaan yang ada, tipologi kota dan lain sebagainya.
Pada saat ini sebagian besar pemakai angkutan umum masih mengalami beberapa aspek negatif sistem angkutan jalan raya, yaitu :
  • Tidak adanya jadwal yang tetap;
  • Pola rute yang memaksa terjadinya transfer;
  • Kelebihan penumpang pada saat jam sibuk;
  • Cra mengemudikan kendaraan yang sembarangan dan membahayakan keselamatan.
Secara umum permasalahan transportasi di perkotaan dipengaruhi oleh beberapa kondisi berikut (sebagai ilustrasi diambil permasalahan transportasi di Jakarta) : 
1. Sarana dan prasarana lalu lintas masih terbatas
  • Tidak seimbangnya prosentase penambahan jumlah kendaraan sebesar 11,47% per tahun dengan persentase pertambahan prasarana jaringan jalan yang hanya 4% per tahun;
  • Sarana pejalan kaki (trotoar) belum memadai dan masih sangat kurang;
  • Kapasitas persimpangan masih terbatas;
  • Sarana penyeberangan jalan belum memadai.
2. Manajemen lalu lintas belum berfungsi secara optimal
  • Kendaraan berpenumpang kurang dari 2 orang masih terlalu banya;
  • Fungsi jalan belum terpisah secara nyata (fungsi jalan arteri masih bercampur dengan fungsi jalan lokal);
  • Jalan dan trotoar digunakan oleh pedagang kaki lima dan usaha lainnya seperti bengkel dan parkir liar;
  • Lalu lintas satu arah masih terbatas pada jalan tertentu;
  • Lajur Khusus Bus (LKB) baru ditetapkan pada beberapa jalan untuk jam tertentu;
  • Penerapan Kawasan Pembatasan Lalu Lintas (KPL) masih terbatas pada jam tertentu saja;
3. Pelayanan angkutan umum penumpang belum memadai
  • Dari sekitar 2 Juta kendaraan bermotor, tercatat jumlah angkutan pribadi 86%, angkutan umum 2,51% dan sisanya sebesar 11,49% adalah angkutan barang. Selain itu diketahui bahwa 57% perjalanan orang menggunakan kendaraan pribadi. Dengan demikian proporsi angkutan penumpang menjadi tidak seimbang, yaitu 2,51% angkutan umum harus melayani 57% perjalanan orang, sedangkan 86% angkutan pribadi hanya melayani 43% perjalanan orang;
  • Tidak seimbangnya jumlah angkutan umum dengan jumlah perjalanan orang yang harus dilayani menyebabkan muatan angkutan umum melebihi kapasitasnya terutama pada jam sibuk;
  • Penataan angkutan umum belum mengacu kepada hirarki jalan;
  • Belum tersedianya sistem angkutan umum massal.
4. Disiplin pemakai jalan masih rendah
  • Disiplin pengendara, penumpang maupun pejalan kaki masih kurang;
  • Perubahan peraturan menyebabkan perlunya waktu untuk penyesuaian;
  • Pendidikan mengenai lalu lintas belum masuk dalam pendidikan formal.
Kecenderungan perjalanan orang dengan angkutan pribadi di daerah perkotaan akan meningkat terus bila kondisi sistem transportasi tidak diperbaiki secara lebih mendasar. Berarti akan lebih banyak lagi kendaraan pribadi yang digunakan karena pelayanan angkutan umum seperti saat ini tidak dapat diharapkan lagi. Peningkatan kecenderungan perjalanan dengan angkutan pribadi adalah dampak fenomena pertumbuhan daerah perkotaan, seperti :
  • Meningkatnya aktivitas ekonomi kurang terlayani oleh angkutan umum yang memadai
  • Meningkatnya harga tanah di pusat kota mengakibatkan tersebarnya lokasi permukiman jauh dari pusat kota atau bahkan sampai ke luar kota yang tidak tercakup oleh jaringan layanan angkutan umum;
  • Dibukanya jalan baru semakin merangsang penggunaan angkutan pribadi karena biasanya di jalan baru tersebut belum terdapat jaringan layanan umum pada saat ini;
  • Tidak tersedianya angkutan lingkungan atau angkutan pengumpan yang menjembatani perjalanan sampai ke jalur utama layanan angkutan umum;
  • Kurang terjaminnya kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan tepat waktu, kebutuhan akan lama perjalanan yang di derita dalam pelayanan angkutan umum;
  • Semakin meningkatnya daya beli dan tingkay privacy yang tidak bisa dilayani oleh angkutan umum/
Pengantar Perencanaan Transportasi 
Kegiatan perencanaan transportasi yang paling besar pada tahun-tahun terakhir ini adalah perencanaan transportasi perkotaan, di mana fokus perhatiannya adalah merencanakan prasarana jalan dan transportasi umum untuk masa depan. Dalam bidang perencanaan transportasi perkotaan inilah sebagian besar riset dan pengembangan alat-alat model baru telah dilakukan dimana sebagian besar pengalaman dalam perencanaan transportasi jangka panjang telah dikembangkan.

Perencanaan transportasi dilakukan untuk berbagai alasan. Salah satu alasan yang sangat penting adalah bahwa periode waktu yang sangat panjang akan dibutuhkan untuk melaksanakan sebagian besar perubahan utama dalam sistem transportasi, terutama pembangunan fasilitas-fasilitas yang baru. Oleh karena itu, pengambilan keputusan yang rasional mengenai dibangun atau tidak fasilitas tertentu membutuhkan pandangan ke masa depan, pada periode dimana ia akan dipakai, dan keuntungan dari pemakainya yang akan diperoleh. Selain itu, untuk alasan yang sama, kita harus melihat ke masa depan untuk dapat memperkirakan masalah-masalah yang akan muncul apabila fasilitas tadi tidak tersedia, sehingga fasilitas tadi dapat dibangun secepatnya untuk menghindari masalah tersebut sebelum ia menjadi sesuatu yang tidak dapat diterima lagi.

Perencanaan juga berguna untuk memastikan bahwa berbagai perubahan di dalam sistem akan bekerja dengan baik sehingga dapat menghasilkan keuntungan maksimum bagi daerah yang bersangkutan. Perencanaan jangka panjang juga dilakukan karena tingkat pemerintahan yang lebih tinggi (atau badan-badan ekstern seperti badan pembiayaan internasional) biasanya memerlukannnya untuk dapat mempunyai gambaran menyeluruh mengenai keadaan transportasi di masa depan, dan dapat mempunyai bayangan bagaimana proyek tadi berfungsi apabila dilakasanakan.

Perencanaan transportasi perkotaan tidak pelak lagi merupakan bentuk yang paling umum di dapat dari perencanaan jangka panjang. Bidang perencanaan transportasi perkotaan masih tetap berkembang, sebab disadari bahwa metode dan prosedur yang telah dikembangkan tidak seluruhnya sesuai untuk dapat menangai masalah rumit yang timbul akibat pertumbuhan yang cepat dalam daerah perkotaan, dengan kebutuhan akan kualitas kehidupan yang lebih baik. 

Proses perencanaan transportasi meliputi kegiatan seperti inventarisasi (inventory), peramalan penggunaan lahan (land use forecasting), bangkitan pepergian (trip generation), distribusi/sebatan pepergian (trip distribution), pilihan moda (modal split), penempatan lalu lintas (traffic assignmen). Penjelasannya sebagai berikut :

Inventarisai (Inventory)
Merupakan tahap awal untuk mengumpulkan data-data yang digunakan sebagi dasar mengevaluasi keadaan transportasi dan kebutuhan perjalanan saat ini, yang semuanya digunakan untuk memperkirakan kebutuhan perjalanan dan sistem informasi yang akan datang. Data yang diharapkan didapat antara lain penggunaan lahan, perjalanan penduduk, jumlah trip yang dilakukan, dan tingkat penggunaan bermacam-macam fasilitas transportasi yang tersedia, populasi dan karakteristik sosial ekonomi wilayahnya.

Peramalan Penggunaan Lahan (Land Use Forecasting)
Memprediksi perkembangan penggunaan lahan yang ada sekarang, terutama penggunaan lahan yang berpengaruh terhadap transportasi seperti perkembangan perumahan dan penggunaan komersial lainnya.

Bangkitan Pepergian (Trip Generation)
Menyangkut perkiraan jumlah trip yang datang (attraction) dan pergi (production) dari suatu zona per satuan waktu. Trip generation ini akan selalu dipengaruhi oleh intensitas penggunaan lahan, karakteristik dari rumah tangga penduduk, dan lokasi tempat tinggal yang ditinjau.

Distribusi/Sebaran pepergian (Trip Distribution)
Langkah untuk mendistribusikan semua trip yang berasal dari setiap zona menuju ke semua kemungkinan zona yang tersedia.

Pilihan Moda (modal split)
Moda berkaitan dengan jenis transportasi yang digunakan, pilihan pertama biasanya berjalan kaki atau menggunakan kendaraan (pribadi atau umum). Dasar untuk pemilihan moda transportasi ini akan dipengaruhi oleh karakteristik trip, karakteristik traveler dan karakteristik sistem transportasinya.

Penempatan Lalu Lintas (Traffic Assignment)
Langkah terakhirnya adalah menempatkan pergerakan (trip) kedalam sistem jaringan jalan yang ada. Pada tahap ini akan juga ditentukan rute-rute yang dilalui, dimana pilihan rute akan juga berhubungan dengan tingkat pelayanan (level of service) jalannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar